Jumat, 22 Januari 2010

AQIDAH ADALAH KEBUTUHAN MANUSIA

Aqidah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lainnya.

Sesungguhnya binatang (mahluk) yang paling buruk disisi Allah ialah orang-orang karena mereka tidak beriman”. (Q.S. 8:55)

Dalam kehidupan manusia, aqidah merupakan dasar hidup (fondasi) untuk mendirikan bangunan (beramal). Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, semakin kokoh pula fondasi yang dibuat. Jika fondasinya lemah, bangunan akan cepat ambruk. Dan akhirnya tidak ada bangunan tanpa fondasi. (Q.S. Ibrahim (24):24-27).

 

Seperti kontraktor, membangun gedung bertingkat, fondasinya harus kuat agar tidak cepat hancur dan mengecewakan pemiliknya. Penguasa harus menguasai landasan etika berdagang agar tidak mengalami kerugian. Demikian juga manusia agar hidupnya sukses dan tahan dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan maka dituntut memiliki pegangan yang kuat (aqidah).

 

Karena aqidah adalah fondasi, maka aqidah merupakan kebutuhan dasar manusia untuk meluruskan fitrah serta mengaktualisasikan misi kemanusiaan. Manusia tanpa iman akan kehilangan harkat dan martabatnya sebagai mahluk yang mulia. Bahkan menurut kitab suci, manusia yang demikian akan kehilangan eksistensi dasar nilai manusia kemanusiaan (iman dan amal shaleh).

 

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh; maka bagi mereka pahala yang melimpah”. (Q.S. 95:4-9).

 

“Dan Sungguh Kami (Tuhan) telah memuliakan anak cucu Adam (Umat manusia), dan Kami bawa (kembangkan) mereka di daratan dan lautan”. (Q.S. 17:70).

 

Jika kita perhatikan kembali lebih seksama urutan keterangan dalam kitab Suci, kita dapat menyimpulkan bahwa, manusia menurut kejadian atau asal Fitrahnya adalah mahluk mulia. Tetapi karena berbagai hal yang muncul akibat kelemahannya sendiri manusia selalu terancam kemungkinan mengalami kemerosotan harkat dan martabatnya sehingga menjadi mahluk yang paling hina.

 

Manusia akan terselamatkan dari kemungkinan kemerosotan harkat dan martabat kemanusiaan kalau ia mempunyai semangat Ketuhanan (rabbaniyyah atau ribbiyyah) dan berbuat baik kepada manusia. (Q.S. (3:79), (3:146)).

 

Dalam pengalaman sejarah kemanusiaan, banyak pemerkosaan hak-hak manusia, kediktatoran, kesewenang-wenangan antar sesama mahluk sosial. Tindakan tersebut tidak disemangati nilai Ke-Tuhanan dan kemanusiaan, seperti Fir’un dan Qarun (kedua orang ini adalah tiran, diktator, dan kapitalistik).

 

Dari sudut penglihatan inilah kita juga dapat menafsirkan kedatangan Rasul-rasul dan Nabi-nabi, yaitu untuk memimpin umat manusia melawan kenistaanya dan mengemansipasi harkat dan martabatnya sebagai mahluk mulia.

 

Kejatuhan manusia itu terlambangkan dalam terusirnya Adam dan Istrinya dari surga karena melanggar larangan Tuhan. Adam dan istrinya terangkat hanya setelah Adam menerima pengajaran Tuhan dan bertaubat (2:35-37) yaitu pengajaran tentang hidup beriman dan beramal shaleh.

 

Perkataan “iman”, harus diikuti dengan perkataan “amanah”, kedua perkataan tersebut muara akhirnya (tujuannya) adalah menjadi “Aman” (hidup sejahtera/bahagia). Jadi iman itu bukan sekedar percaya, akan tetapi konsekwensinya adalah melaksanakan “amanah” (kepercayaan) ketuhanan (amal shaleh). Perpaduan dan kesatuan iman dan amanah itu akan menyebabkan diri manusia merasa aman, merasa Islam (ketenangan dan kedamaian). Lihat padanan Istilah dibawah ini:

Iman + Amanah = Aman

Iman + Islam = Ihsan

Iman yang demikian itu terkandung pengertian sikap atau pandangan hidup kepasrahan menyandarkan diri (tawakal) kepada Tuhan dan kembali (ruju’ atau inabah) kepada-Nya. (Q.S. (39:54), (89:28). Memang salah satu wujud rasa iman adalah sikap hidupa yang memandang Tuhan sebagai tempat menyandarkan diri, menggantungkan harapan, berdo’a, berdzikir, bersyukur dan lain sebagainya. Karena Allah ash shamad (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Q.S. 112:2)

 

Contohnya:: kalau kita ingin sukses belajar, tidak perlu pergi ke dukun, tidak perlu meramalkan nasib. Kita harus mengikuti hukum kesuksesan (belajar, bekerja, dan berdo’a). Jangan sampai kita berdo’a tanpa keja.

 

Oleh karena itu konsistensinya iman ialah “khusnuzhzan” (khusnal zhanzz, baik sangka yakni sikap optimis) kepada Tuhan (Q.S. (12:87), (3:153)), serta kemantapan kepada-Nya sebagai Yang Maha Suci, Maha Kasih dan menyayangi seluruh ciptaanya-Nya tanpa diskriminasi. Justru sifat rahmah (keramahan dan kerahiman), disamping pengetahuan (‘ilm) adalah sifat Tuhan yang paling komprehensif dan serba meliputi, (QS. (6:12), (7:156), (40:7)).

 

Contohnya orang yang beriman dan tidak beriman oleh Allah juga diberi kehidupan dan diberi rizki melaui usahanya. Binatang dari yang kecil, yang besar serta yang bermanfaat dan yang dilarang dimakan juga diberi kehidupan. Ini semua menunjukkan sifat keramahan Allah lebih besar.

Misalnya jika permohonan do’a kita belum terkabulkan, jangan menuduh yang macam-macam kepada Tuhan mungkin cara berdo’a kita kurang benar, kurang serius serta melebihi kapasitas diri. Kalau permohonan kita dikabulkan sedangkan kita tidak siap menerimanya maka akan berimplikasi negatif. Bukankah Tuhan Maha Mengetahui dan mengabulkan setiap permohonan.

 

Keimanan merupakan suatu yang inhern pada manusia, dengan kata lain secara alamiah bahwa manusia itu cenderung kepada kebenaran Allah, karena setiap calon manusia di kala masih berada dalam kandungan telah mengadakan perjanjian premodial untuk mengakui Allah sebagai Tuhannya (Q.S. 7:172). Fitrah adalah sesuatu yang ada di dalam diri manusia. Fitrah itu membuat manusia itu berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief).

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. 30:30).

 

Jadi iman itu harus dipertahankan melalui perjuangan yang sungguh-sungguh, sebab iman bisa bertahan, bertambah, berkurang dan bisa lepas (hilang) dari diri seseorang.

Dan mereka yang berjuang dijalan Ku (kebenaran), maka pasti aku tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada orang-orang yang selalu berbuat baik”. (Q.S. 30:30).

 

Dengan demikian kita semakin tahu dan mengeri betapa pentingnya mempertahankan harkat dan martabat kita dengan memiliki aqidah Islamiah, agar tidak jatuh kelembah yang hina, nista dan kehilangan fitrah kemanusiaan. Aqidah itulah yang menjadikan manusia sempurna, manusia utuh, manusia yang tidak memiliki kepribadian yang pecah dalam menatap kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar